Selama lima hari, Yogyakarta menjadi rumah bagi ratusan alumni sekolah Jesuit dari 57 negara, termasuk 40 perwakilan dari IKAMI. XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) Congress digelar dari Rabu, 29 Juli, hingga Minggu, 2 Agustus 2026, di Universitas Sanata Dharma, bertepatan dengan peringatan 70 tahun WUJA. Kongres tahun ini mengusung tema United in Spirit, Leading with Purpose
Hari Pertama
Rangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, dipimpin Romo Albertus Bagus Laksana, SJ, bersama para romo konselebran dari Thailand, Timor Leste, India, dan berbagai penjuru dunia. Di sinilah kekayaan tradisi Katolik berbalut kultur Jawa pertama kali menyapa para delegasi pembuka yang hangat, sekaligus mengingatkan pada semangat dialog antariman yang memang lekat dengan Yogyakarta.
Hari Kedua
Pagi hari, WUJA Congress 2026 dibuka dengan upacara pembukaan resmi oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menandai dukungan penuh pemerintah daerah bagi perhelatan internasional ini.
Selepas itu, Pater Jenderal Serikat Jesuit, Romo Arturo Sosa, SJ, hadir langsung dari Roma membawakan permenungan tentang Four Apostolic Preferences: memperdalam relasi dengan Tuhan, berjalan bersama kaum miskin dan tersingkirkan, menemani generasi muda, dan berkolaborasi merawat bumi sebagai rumah bersama.
Keempatnya bergema dengan semangat rekonsiliasi dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan yang belakangan ini banyak digaungkan dalam Kongregasi Umum Jesuit dan kepemimpinan Paus Fransiskus. Pater jendral juga kembali menegaskan gagasan Partners in Mission: bahwa misi Gereja kini dijalankan bersama mitra awam, universitas, dan komunitas yang beragam, bukan oleh para Jesuit sendirian.
Sesi berlanjut bersama Romo Jimmy Bartolo, SJ, dan Romo Dr. Dominic Savio, SJ dari St. Xavier’s College, yang mengupas jejaring pendidikan Jesuit di kancah global. Hari itu ditutup dengan Examen Conscientiae bersama Romo Koko, SJ
Hari Ketiga
31 Juli, bertepatan dengan Pesta Nama St. Ignatius dari Loyola, hari ini dibuka dengan Misa yang dipimpin Romo Jimmy Bartolo, SJ. Kemudian sementara delegasi utama mengikuti sesi seminar, kelompok Youth Wing melakukan sesi kreativitas lewat workshop Lego Serious Play, menerjemahkan gagasan abstrak dalam diri ke dalam model tiga dimensi.
Sebagian delegasi melanjutkan perjalanan berkunjung ke Borobudur, sementara Youth Wings berkunjung ke Kolsani, Gereja kota baru, hingga Kapel Suster Kongregasi Amalkasih Darah Mulia.
Malam harinya, SMA Kolese De Britto menyuguhkan perjamuan tak terlupakan: pagelaran wayang, dinner bergaya piknik, dan konser musik yang menyalakan semangat persaudaraan hingga larut.
Hari Keempat
Ruang diskusi diisi oleh empat pembicara:
- Dr. John Tan mengangkat kisah murid Yesus di jalan Emmaus sebagai pengingat untuk tetap berpengharapan di tengah kecemasan akan perkembangan AI.
- Martinus Ezerman berbicara tentang membangun sistem yang tangguh dan cepat pulih di tengah derasnya arus informasi.
- Claudia Lissette Escobar Mejía menegaskan pentingnya keteguhan iman dan keberanian memperjuangkan keadilan di tengah korupsi global.
- Prof. Nancy C. Tuchman menutup sesi dengan seruan aksi ekologis nyata dari lingkungan sekolah Jesuit, menggemakan ensiklik Laudato si’ milik Paus Fransiskus.
Malam harinya, kemegahan Candi Prambanan menjadi latar Gala Dinner Peringatan 70 Tahun WUJA, dimeriahkan juga dengan pertunjukan wayang kontemporer garapan Ki Wahyu Dunung Raharjo, S.Sn. dalang sekaligus pendiri Animawayang bersama alumnus Mikael, memadukan keagungan seni tradisional dengan sentuhan teknologi modern.
Hari Kelima
Hari terakhir. Para delegasi merumuskan Resolusi dan Manifesto Bersama, sebelum mengumumkan tuan rumah WUJA Congress berikutnya: India, 2030. Misa Perutusan yang dipimpin Romo Benediktus Hari Juliawan, SJ menjadi penutup yang megah, dihidupkan harmoni Paduan Suara Vitalis dari Politeknik ATMI Surakarta dan Gamelan Supra dari Kolese Loyola Semarang.
WUJA Congress 2026 Yogyakarta adalah bukti bahwa ikatan alumni Jesuit adalah gerakan global yang terus saling menguatkan dan menyebarkan kebaikan di mana pun para alumninya berada.
Salah satu tantangan besar yang mengemuka dalam kongres ini adalah bagaimana menjaga jaringan itu tetap hidup lintas generasi: mempertemukan para profesional mapan dengan alumni muda yang baru memasuki dunia kerja, lewat mentorship yang berakar pada nilai yang sama. Ada kekhawatiran bahwa Magis – Spirit Ignatian untuk selalu berbuat lebih bisa memudar seiring pergantian generasi, sehingga melibatkan alumni muda yang peduli pada keadilan sosial dan aktivisme digital menjadi kunci keberlangsungan Union ini ke depan.
Sampai jumpa di India, WUJA 2030.
Perkumpulan Keluarga Alumni Kolese Mikael – PAKM
Ad Maiorem Dei Gloriam
















